Tatkala Rindu Menemukan Rumahnya
Empat hari selepas gema takbir yang menggema di langit malam, saya dan keluarga memulai perjalanan menuju rumah nenek yang kurang lebih menempuh waktu 2-3 jam. Memang tidak semuanya berkesempatan menengok nenek, tetapi karena kami sudah merencanakan dari jauh hari kami pun dengan antusias menyiapkan segala macam barang yang akan kami bawa nantinya.Mentari pagi menari lembut dai balik pepohonan, seakan turut mengantarkan kami dengan kehangatan. Angin sejuk yang menyapu wajah, membawa rasa rindu yang telah mengendap sejak lama. Jalanan masih dipenuhi kendaraan keluarga lain yang juga tengah mengejar pelukan hangat dari keluarga di kampung. Sesekali, kendaraan kami harus melambat, namun tidak ada kendala. Justru tawa kecil dari obrolan ringan menjadi teman kami sepanjang jalan.
Asri nya pedesaan telah terlihat tatkala kami hampir sampai ke rumah nenek. Ketika sampai, tepat di ambang pintu, senyum nenek mengembang seperti cahaya fajar yang lembut. Tangannya yang keriput menggenggam jemari kami satu per satu,menyelipkan doa yang tak pernah terputus. Pelukannya, yang hangat bak selimut di malam yang dingin, menghapus penat perjalanan dan rasa rindu yang telah terpendam.
Seolah mengetahui rasa penat kami, nenek menuntun untuk duduk di ruang tengah. Aroma masakan yang telah disiapkan, mengisi udara dengan rasa yang besar untuk segera dicicipi. Suara tawa terdengar dari berbagai sudut rumah, anak-anak bermain di halaman, orang dewasa pun larut dalam percakapan hangat yang tak pernah basi.
Waktu berjalan seiring dengan hangatnya kebersamaan kami. Di rumah nenek, lebaran selalu terasa hangat dan ramai. Ia adalah rumah bagi rindu yang telah tumbuh karena jarak yang telah menjadi penghalang, dan jawaban bagi hati yang selalu ingin pulang dan berkumpul bersama. Semoga kami semua diberi kesehatan dan kesempatan untuk tetap bersama merayakan hari-hari berharga.

Komentar
Posting Komentar